Madu Propolis

Benefit of Propolis

Propolis is produced by bees and is used as a construction material in bee hives. To protect the hive and its nutritious contents from attack by micro-organisms, propolis has anti-microbial properties. Propolis is comprised of a complex of chemicals (especially flavonoids), which play a role as antiviral and antibacterial agents.

Propolis for Herpes

When propolis was administered to various laboratory animals and to Vero cells in vitro (in laboratory cultures) significant inhibitory effects against HSV-1 were found. Propolis (5%) prevented development of symptoms of intraperitoneal HSV-1 infection in rats and corneal HSV-1 infection in rabbits.

In one study, 90 men and women with recurrent genital HSV2 were divided into two groups to compare the healing ability of propolis ointment versus acyclovir ointment and placebo. At day 10, 80 percent of patients in the propolis group had healed versus 47 percent in the acyclovir group and 40 percent in the placebo group.

Human trials as an internal anti-viral agent have not been done. Based on successful laboratory and animal studies, and successful use as a topical agent on herpes lesions, it is hypothesized that it may be beneficial as an oral anti-viral agent in humans as well.

Anti-Bacterial & Anti-Viral Properties of Propolis

The early research on propolis was mostly done in Eastern Europe and the former Soviet Union. Laboratory tests demonstrated that propolis on its own is effective against over 20 kinds of bacteria. Clinical studies also demonstrated that propolis was effective against various kinds of bacterial, fungal, and viral infections. Dr. Kravcuk of Kiev found that propolis was effective against sore throats and dry coughs in 90% of 260 patients. A recent study by Serkedjieva, et al, showed that the active ingredients in propolis significantly inhibited the Hong Kong flu virus. In a recent study, Egyptian researchers examined two types of propolis and found they exhibited antibacterial activity against the bacteria Staphylococcus aureus and Escherichia coli as well as the fungus candida albicans. In a March 2004 article in the Archives of Pediatric and Adolescent Medicine, an herbal formula containing echinacea, propolis, and vitamin C was tested on 430 children in a double blind placebo controlled study. The group treated with the herbal formula a 55 percent reduction in the number of illness episodes compared with the placebo group. In treated children, the mean number of episodes per child was decreased by half and the mean number of days each child suffered from a fever was reduced by 62 percent.

The antibacterial properties of propolis appear to be due to multiple mechanisms. Propolis inhibits bacterial growth by preventing cell division. It also disorganizes bacterial cytoplasm, cell membranes, and cell walls. Propolis causes partial bacteriolysis and inhibits protein synthesis. In addition, propolis appears to enhance the effectiveness of antibiotics such as penicillin and streptomycin.

Propolis and Immune Enhancement

In addition to providing direct anti-bacterial and anti-viral effects, Propolis also stimulates the bodys immune system. Propolis significantly activates macrophages, which play an important role in infection prevention. In addition, it can significantly inhibit lipoxygenase activity, thereby inhibiting prostaglandin synthesis and producing anti-inflammatory effects.

Propolis in the Prevention and Treatment of Cancer

Propolis may also have value in the prevention and treatment of cancer. Caffeic acid phenethyl ester (CAPE), one of the active ingredients in propolis, has been shown to prevent cancer formation in animal models. It also showed strong cancer inhibitory effects against several colon cancers, melanoma and glioblastoma. Propolis inhibits cancer cell growth by increasing the process of apoptosis (programmed cell death).

Propolis and Ulcers

Propolis has been reported to be effective in the treatment of Ulcers. In a clinical study involving 294 patients Dr. Franz K. Feiks, in Austria found that 90% of 108 ulcer patients given propolis were free of symptoms after two weeks, compared to only 55% of 186 conventionally treated patients. Dr. Feiks also noticed that 70% of the propolis group obtained relief in three days, compared to only 10% of the group receiving conventional medication.

Propolis Safety

No side effects have been reported for propolis. The LD50 (the dose causing half of the tested animals to die) for propolis is 7.34 g/Kg body weight in mice. Thats close to 50 gm of propolis for a 160 pound person. Propolis has also been reported to be non-irritating and safe for topical use.

Detoksifikasi Propolis

Propolis cair mempunyai reaksi dengan kecepatan yang luar biasa pada proses penyembuhan. Reaksi propolis untuk penyakit tertentu, dapat dirasakan hanya dalam hitungan menit. Reaksi tersebut kadang-kadang menyebabkan rasa kurang nyaman pada tubuh, jika hal tersebut muncul dan merasa kurang nyaman sebaiknya dosis aturan minum propolis diturunkan terlebih dahulu. mulai dengan dosis 3 tetes propolis 3x sehari, dan setiap hari dinaikan hingga mencapai 7-10 tetes propolis 3x sehari.

Detoksifikasi pengunaan propolis yang umumnya timbul pada pengobatan tertentu bisa dilihat pada daftar di bawah ini. Detoksifikasi merupakan hal yang umum pada proses penyembuhan:

Tabel detoksifikasi propolis

Detoksifikasi setelah konsumsi Propolis Permasalahan /penyakit/indikasi
Bersin, gatal pada hidung Permasalahan pada hidung, polip atau sinusitis
Wajah terasa panas, tekanan darah naik sesaat, demam, pusing Permasalahan pada system sirkulasi darah, darah tingi
Kulit kaki terasa tebal dan dingin, sebagian badan terasa dingin, jantung berdebar Tekanan darah rendah, kurang darah
Susah buang air besar, mencret, berak berlendir, berak berdarah Radang pada usus besar, gangguan pada usus, hemoroid
Mual, sering buang air besar, muntah Obesitas, gangguan pada lambung, proses penyembuhan gangguan pencernaan.
Bengkak, gatal Alergi
Muncul kotoran pada mata, gatal, keluar air mata Gangguan pada mata
Mimpi buruk, gelisah, susah tidur Gangguan pada system syaraf dan kepala
Lelah, susah tidur, sakit pada sendi Gangguan pada persendian, proses penyembuhan rheumatik
Pegal-pegal Proses pembuangan racun dan pembersihan zat-zat dalam pembuluh darah
Kejang-kejang Proses penyembuhan peradangan ginjal.
Bèsèr Proses pembuangan racun lewat air senih
Kulit mengeras, muncul jerawat Permasalahan pada kulit
Rasa sakit pada punggung, sakit didada Permasalahan pada jantung
Mual, letih, keringat dingin Permasalahan pada perut
Keletihan, ngantuk Permasalahan pada hati
Bengkak kaki, skt pinggang, susah buang air kecil Permasalahan ginjal
Batuk, kedinginan, sakit kerongkongan, demam proses pengeluaran racun lewat dahak dan perbaikan fungsi paru-paru, permasalahan pada paru-paru, asma
Demam, susah tidur, terdapat pembengkakan, ada pendarahan, tinja berwarna hitam Tumor, cancer, proses pengikatan virus dan bakteri atau indikasi bahwa di dalam tubuh teralu banyak virus dan bakteri.
Ngantuk, diare, gula darah naik, selera makan turun Permasalahan Hati, limpa, pankreas, proses penyembuhan fungsi hati dan detoksifikasi tubuh.
Haus, keringat berbau, kenaikan kadar gula sesaat. Gangguan pada pancreas, diabetes

Lembutkan Bibir dengan Madu

madu 150x150 Lembutkan Bibir dengan MaduTernyata, tidak sulit mengatasi bibir yang kering dan pecah-pecah. Bahkan, Anda tak perlu membeli kosmetik yang mahal untuk mengatasinya. Ada cara yang lebih yummy untuk menjaga kelembutan bibir. Cobalah untuk lebih sering mengkonsumsi madu, apakah itu dicampurkan dalam teh atau dioleskan pada roti bakar.

Madu adalah pelembab bagi bibir kita, sehingga bibir akan lebih lembut dan halus. “Madu adalah gula alami yang memiliki kecenderungan untuk menempel di bibir,” ucap Kenneth Beer, MD, asisten profesor dermatologi di University of Miami. Kecenderungan untuk menempel lebih lama inilah yang membuat bibir mendapat moisturizer lebih lama.

Dengan bibir yang lembab, ketika kita mengoleskan lipstik pada permukaan bibir, pulasannya akan sangat halus dan warna yang ditampilkan pun lebih berkilau.

(Siagian Priska/Prevention Indonesia) kompas.com

Propolis Gagalkan Amputasi : Diabetes

“Propolis memperbaiki fungsi kelenjar pankreas dalam memproduksi insulin sehingga menurunkan kadar glukosa darah.”

Mengunjungi kerabat dekat pada pertengahan 2006 berakibat fatal bagi Yatinah. Dengan Kadar gula darah 423 mg/l kakinya tak merasakan kap mesin angkutan kota yang panas. Sesampai di rumah punggung kaki melepuh.

Luka melepuh itu kemudian membengkak berisi cairan. Karena bengkak kian membesar, perempuan berusia 61 tahun itu lantas dibawa ke rumahsakit di Bekasi. Dokter menyayat dan mengeluarkan cairan lalu menjahitnya. Luka sayatan itulah awal derita. Penyakit gula membuat luka tak kunjung menutup. Dalam 3 bulan, luka itu semakin lebar dan dalam.

Meski setiap hari dicuci dengan air hangat dan dikompres, luka tak juga mengecil. Di bulan kelima, lukanya malah mulai bernanah dan menguarkan bau tak sedap. Puncaknya pada awal 2007 luka tembus sampai telapak kaki dan menjadi ganren. Ia pun tak lagi mampu berdiri, apalagi berjalan. Mobilitas perempuan 9 anak itu bergantung pada kursi roda.

Yatinah kerap bolak-balik ke klinik dan rumahsakit untuk memeriksakan lukanya. Perempuan yang hidupnya hanya mengandalkan warung makanan kecil di depan rumah itu mesti merogoh kocek Rp250.000—Rp500.000 setiap periksa. Meski demikian, ganren terus menjalar sampai kulit di sekitarnya lebam menghitam. Maret 2007, lebam kehitaman itu menjalar mendekati pergelangan kaki. “Jika sudah sampai pergelangan kaki harus di amputasi,” kata Yatinah menirukan ucapan dokter. Ia pun hanya bisa pasrah sambil terus mengkonsumsi obat dari dokter.

Propolis Sembuhkan luka diabetes

Pada April 2007, disarankan mengkonsumsi propolis. Yatinah menurut walau ragu. “Dokter di klinik dan rumahsakit dengan obat buatan pabrik terkenal saja tidak bisa menyembuhkan, apalagi suplemen biasa,” katanya. Selama 3 hari ia mengkonsumsi propolis pada pagi, siang, dan malam sebelum tidur. Menurut Yatinah, konsumsi awal rendah itu untuk memberi kesempatan tubuh beradaptasi.

Setelah 3 hari konsumsi, Yatinah merasakan tidak ada reaksi penolakan dari tubuh dan baunya berkurang. Saat itulah ia merasakan lukanya berdenyut, pertanda saraf perasa kembali aktif. Konsumsi pun ditingkatkan konsumsi propolis setiap minum dengan frekuensi tetap. Dua minggu mengkonsumsi, nanah berhenti keluar. Bau tidak sedap pun tidak lagi tercium. Luka di telapak mulai mengering, sedangkan luka di punggung kaki menyempit. Lebam kehitaman di sekitar luka memudar.

Saat itu konsumsi propolis masih dibarengi obat kimia. Setelah obat dokter habis, Yatinah melanjutkan pengobatan hanya dengan propolis. Sebulan setelah konsumsi, giliran luka di punggung kaki mengering bersamaan menutupnya luka di telapak. Dua bulan mengkonsumsi, nenek 17 cucu itu bisa lepas dari kursi roda. Ia kembali bisa berjalan meski agak tertatih. Tak sampai 3 bulan mengkonsumsi, luka mengerikan itu sudah lenyap.

Bukan cuma mengkonsumsi propolis secara oral, Yatinah juga menggunakan salep untuk obat luar. Ia mengoleskan salep mengandung propolis pada ganren di kakinya. Sebelumnya luka dicuci 2—3 kali dengan cairan infus. Cairan infus dipilih lantaran steril. Setelah dibilas dengan cairan madu, barulah salep dioleskan. Cairan madu menggantikan alkohol yang meskipun ampuh mengeringkan luka tapi sakitnya tidak tertahankan.

Propolis bekerja di Dalam dan luar

Menurut dr Hafuan Lutfie, dokter yang meresepkan propolis sejak 2002, propolis bisa bekerja di dalam dan di luar tubuh. Jika dikonsumsi oral, propolis memperbaiki fungsi kelenjar pankreas dalam memproduksi insulin sehingga menurunkan kadar glukosa darah. “Tapi dengan catatan kelenjar pankreas masih berfungsi dan belum rusak total,” katanya. Selain membantu penyembuhan, propolis juga memberi nutrisi sehingga sel bisa beregenerasi. Fungsi itulah yang tidak bisa digantikan obat-obatan medis.

Jika digunakan di luar tubuh, misalnya dioleskan sebagai salep, propolis bisa menyembuhkan ganren dan menghilangkan nanah serta bau. Pasalnya, lem lebah itu bersifat antibakteri. Menurut Hafuan, nanah dan bau adalah sisa pertempuran antara sel darah putih dan bakteri patogen dari udara. Jika bakteri sudah dikalahkan oleh propolis, tidak ada lagi nanah penyebab bau yang terbentuk. Sifat lain propolis dan produk perlebahan lain secara umum adalah membantu pengeringan sehingga tidak dihinggapi bakteri patogen.

Daya menyembuhkan propolis tergantung kepada kadar yang dikonsumsi. Semakin tinggi kadar, semakin ampuh daya menyembuhkannya. Namun, jika kadarnya terlalu tinggi—misal melebihi 60%—zat itu tidak bisa tercerna tubuh lantaran sifatnya yang liat dan keras. Sebagai produk nonkimiawi, propolis aman dikonsumsi dalam jangka panjang tanpa efek samping. Toh, Hafuan mengingatkan, selain asupan propolis, penderita diabetes tetap harus menjaga pola makan dan menghindari konsumsi tinggi glukosa serta karbohidrat.

Propolis sebagai Antibakteri

Propolis ampuh memberangus diabetes melitus dan efek sampingnya lantaran kandungan CAPE alias asam kafeat fenetil ester. Penelitian Fuliang dari Universitas Zhejiang, Hangzhou, China, dan Hepburn dari Universitas Rhodes, Grahamstown, Afrika Selatan, membuktikan ekstrak propolis menurunkan kadar glukosa, fruktosamin, malonaldehida, oksida nitrat, oksida nitrat sintetase, trigliserida, sampai kolesterol total dalam darah.

Sementara hasil pengujian Propolis di Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPT) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menemukan propolis kaya alkaloid, flavonoid, polifenol, saponin, tanin, dan kuersetin, yang semuanya bersifat antioksidan.

Sumber: trubusonline

PROPOLIS MEMATIKAN BAKTERI TBC

PROPOLIS MEMATIKAN BAKTERI TBC

Berdasarkan riset di luar maupun dalam negeri, propolis memang terbukti ampuh melawan beberapa penyakit berat. Dr dr Eko Budi Koendhori Mkes, dari Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR), misalnya, membuktikan Propolis itu membantu menekan kerusakan jaringan paru pada mencit yang diinfeksi Mycobacterium tuberculosis - bakteri penyebab penyakit tuberculosis (TBC).

Dari 100 mencit yang diinfeksi M. tuberculosis, tikus yang diberi kombinasi Isoniasid – obat antituberculosis – 25 mg/kg bobot badan dan propolis menunjukkan peningkatan kadar interferon ? . Interferon ? berperan mengaktifkan sel makrofag yang membunuh bakteri TBC. Mencit yang hanya diberi Isoniasid mengalami peningkatan kerusakan paru dari minggu ke-5 hingga ke-12. Sementara kondisi paru mencit yang diberi Isoniasid dan propolis dosis 800 mg pada minggu ke-12 sama seperti pada minggu ke-5.

Propolis
berperan meningkatkan kekebalan penderita sehingga kerusakan jaringan dapat ditekan. Obat standar bekerja secara langsung menyerang bakteri TBC. Nah, kombinasi obat dan propolis mematikan bakteri TBC sekaligus mengurangi kerusakan paru-paru akibat serangan bakteri. ‘Propolis sangat bagus untuk meningkatkan sistem imun. Selain itu Propolis memiliki kemampuan antikanker,’ tutur Eko.

sumber: trubus online

Propolis: Obat Kanker

Berdasar riset yang dilakukan di laboratorium Pengujian dan Penelitian Terpadu (LPT) UGM, produk propolis yang diteliti dapat menghambat sel kanker HeLa (sel kanker serviks), Siha (sel kanker uterus), serta T47D dan MCF7 (sel kanker payudara) dengan nilai IC50 berkisar 20 – 41 µg/ml. Artinya, propolis dosis 20 – 41 µg/ml dapat menghambat aktivitas 50% sel kanker dalam kultur.

Itu sejalan dengan penelitian dr Woro Pratiwi MKes SpPD, dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM). Propolis yang diberikan selama 1 bulan memiliki efek antikanker dalam organisme hidup. Itu ditunjukkan dengan menurunnya jumlah nodul atau tonjolan tumor dan menurunnya aktivitas proliferasi – penggandaan – sel tumor kelenjar payudara pada mencit. Namun, efeknya masih lebih rendah dibanding pada mencit yang diberi obat kanker standar, doksorubisin. ‘Sehingga, perlu dikaji penggunaan propolis dengan obat antikanker terstandar untuk memberikan efek terapi optimal dan efek samping minimal,’ ujar Woro.

Polifenol dan flavonoid, sebagian senyawa yang terkandung dalam propolis, kemungkinan berperan menghambat proliferasi sel kanker. Menurut Dr Edy Meiyanto dari Fakultas Farmasi UGM, flavonoid biasanya mempunyai struktur khas yang mampu menghambat protein kinase yang digunakan untuk proliferasi sel. Jika protein kinase ini dihambat, proses fisiologi sel pun terhambat sehingga sel melakukan apoptosis alias membuat program bunuh diri.

‘Senyawa golongan flavonoid dan polifenol yang ada dalam propolis juga memiliki efek antioksidan dan antitrombositopenia,‘ kata Prof Dr Mustofa MKes Apt dari Bagian Farmakologi & Toksikologi FK UGM. Penelitian tim FK UGM menunjukkan sediaan propolis yang diuji mampu mencegah penurunan trombosit pada mencit yang diinfeksi Plasmodium berghei – salah satu parasit penyebab malaria pada mamalia selain manusia. Dosis optimal 5 ml/kg bobot badan juga mampu meningkatkan jumlah eritrosit hingga 37% setelah 8 hari pemberian.

Silahkan Order propolis Klik Disini

Pengobatan HIV/AIDS

Siapa tak merinding mendengar kata AIDS – menurunnya sistem kekebalan tubuh akibat infeksi human immunodeficiency virus HIV yang memicu munculnya beragam penyakit? Menurut data World Health Organization (WHO), sekitar 2-juta penduduk dunia meninggal akibat AIDS sepanjang 2008. Jumlah itu mungkin turun jika para pengidap AIDS mengenal propolis.

Propolis memang belum dibuktikan secara klinis bisa mengatasi HIV. Namun, berdasar riset in vitro – di laboratorium – yang dilakukan para peneliti dari University of Minnesota, Minneapolis, Amerika Serikat, propolis berpotensi meningkatkan kekebalan tubuh para penderita HIV/AIDS. Tim peneliti menduga zat antiviral yang terkandung dalam propolis menghambat masuknya virus ke dalam CD4+ limfosit.

Propolis dosis 66,6 ?g/ml dalam kultur sel CD4+ – sel T dalam sistem kekebalan yang memiliki reseptor CD4 mampu menghambat ekspresi virus HIV maksimal 85%. Lazimnya pada penderita HIV/AIDS, virus mematikan itu menginfeksi sel bereseptor CD4 dan merusaknya. Makanya, jumlah sel ber-CD4 pada penderita HIV/AIDS turun jauh di bawah angka normal. Pada orang sehat, jumlahnya sekitar 500 – 1.500/mm3 darah.

sumber: trubus online

Propolis Vs Obat Syntetic

Propolis  atau obat synthetic yang kita pilih saat anak kita sering jatuh sakit? Ketika anak jatuh sakit dan pergi ke dokter, umumnya dokter akan memberikan obat sebagai berikut: obat penurun demam, obat penyembuh sakit yang diderita, vitamin, antibiotic synthetic atau obat-obatan lainnya. Dan umumnya obat yang diberikan dokter jika dikonsumsi terus menurus justru akan memberikan efek samping bagi perkembangan anak.

Lantas apa keungulan Propolis dibandingkan dengan Obat synthetic?

Propolis merupakan obat alami yang disediakan alam untuk umat manusia. Propolis dikumpulkan oleh lebah madu dari tumbuh-tumbuhan atau pucuk muda dan kulit pohon terutama pohon poplar. Setelah itu propolis dicampur dengan enzim-enzim dari tubuh lebah itu sendiri.

Propolis merupakan 100% zat alami yang banyak mengandung zat-zat berguna bagi kesehatan tubuh. Propolis merupakan antibiotic alam yang bebas racun dan tanpa efek samping.

Hal ini tentu berbeda dengan obat synthetic  yang dibuat secara masal dengan merubah struktur kimianya sehingga mirip dengan Zat alami aslinya. Penggunaan obat synthetic secara terus menerus  akan mengakibatkan pengaruh negative baik bersifat sementara atau permanen yang umumnya bisa menimbulkan penyakit baru bagi penderita.

Propolis vs Obat synthetic : Propolis besifat penetral racun dan obat synthetic umumnya mengandung racun. Propolis merupakan antibiotic alami dan Obat synthetic adalah antibiotic buatan. Propolis besifat tanpa efek samping dan Obat synthetic bisa menimbulkan efek samping jika dikonsumsi terus menerus. Propolis besifat mutiguna jadi saat dikonsumsi memperbaiki keseluruhan system tubuh sedangkan obat synthetic umumnya diproduksi secara spesifik hanya untuk penyakit tertentu.

Keungunlan Propolis lainnya jika dibandingkan dengan Obat synthetic. Propolis mengandung Bioflavanoid yang berperan dalam meningkatkan system imun (kekebalan tubuh). Bioflavanoid dalam propolis bekerja dengan cara meningkatkan aktivitas dan perbanyak limfosit T dan makrofag yang sangat berguna dalam memusnakhan zat asing dalam tubuh seperti bakteri, sel kanker/tumor dan virus.

Propolis Juga bisa dikonsumsi bersamaan dengan obat dokter tanpa efek samping. Sekarang pilihan kembali kepada kita, apakah dalam menjaga kesehatan anak-anak kita memilih obat sintetik atau obat alami yang disediakan oleh alam.

PROPOLIS : Pharyngithis / Laryngitis dan sakit Tenggorokan

Pada tahun 1971 peneliti Rusia menggunakan 15% propolis ekstrak untuk merawat 260 kasus pharyngitis. 76 % diantaranya sembuhetelah dirawat dengan propolis, 28 % memperlihatkan kemajuan dan 4% tidak memperlihatkan kemajuan.

Di tahun 1975 Doroshenko, dari Rumah Skit no 11 di Kiev-Rusia, merawat 238 penderita pharyngitis dengan campuran propolis. Satu bangian dari 30% propolis ekstrak dicampur dengan glycerin (atau minyak peach) dan disapukan pada membrane mucous yang terinfeksi selama 10-15 hari. 70% pasien telah pulih. Para peneliti menemukan ekstrak propolis meningkatkan efek dari obat2an kimia dalam pengobatan untuk penderita pharyngitis.

Peneliti Romania menggunakan propolis untuk merawat 200 orang pasien dengan pharyngitis akut, tonsillitis akut dan laryngitis akut. Pada 20 orang pasien, dirawat dengan pengobatan kimia, dan sisanya dirawat dengan propolis. Kelompok pasien yang dirawat dengan propolis sembuh lebih cepat daripada kelompok lain.

Di Romania pada tahun 1975 merawat berbagai peradangan membrane mucousa termasuk ulcers dan herpes labial. 34 pasien menerima perawatan dengan propolis cair. Propolis cair mengandung anti-viral, anesthetic, anti bacterial dan efek mycotic.

Self help

Secara tradisional, pengobatan untuk sakit tenggorokan dengan propolis sudah menjadi favorit di negera Balkan. Pengobatannya bisa bermacam2 cara, Obat kumur dengan propolis tincture dan air hangat juga dengan mengunyah propolis. Berbagai macam obat tenggorokan dengan sedikit propolis dijual untuk mengobati peradangan ringan.

Kandungan Madu

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia,” kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl: 68-69) Tahukah Anda, betapa madu merupakan sumber makanan penting yang disediakan Allah untuk manusia melalui serangga kecil ini?

Madu tersusun atas beberapa senyawa gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti magnesium, kalium, kalsium, natrium, klor, belerang, besi, dan fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas nektar dan serbuk sari. Di samping itu, dalam madu terdapat pula sejumlah kecil tembaga, yodium, dan seng, serta beberapa jenis hormon.

Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran, madu adalah “obat bagi manusia”. Fakta ilmiah ini telah dibenarkan oleh para ilmuwan yang bertemu pada Konferensi Apikultur Sedunia (World Apiculture Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 20-26 September 1993 di Cina. Konferensi tersebut membahas pengobatan dengan menggunakan ramuan yang berasal dari madu. Para ilmuwan Amerika mengatakan bahwa madu, royal jelly, serbuk sari, dan propolis dapat mengobati berbagai penyakit. Seorang dokter Rumania mengatakan bahwa ia mengujikan madu untuk pengobatan pasien katarak, dan 2002 dari 2094 pasiennya sembuh total. Para dokter Polandia juga menyatakan dalam konferensi tersebut bahwa resin lebah dapat membantu penyembuhan banyak penyakit seperti wasir, masalah kulit, penyakit ginekologis, dan berbagai penyakit lainnya.

Dewasa ini, apikultur dan produk lebah telah membuka cabang penelitian baru di negara-negara yang sudah maju dalam hal ilmu pengetahuan. Manfaat madu lainnya dapat dijelaskan di bawah ini:

Mudah dicerna: Karena molekul gula pada madu dapat berubah menjadi gula lain (misalnya fruktosa menjadi glukosa), madu mudah dicerna oleh perut yang paling sensitif sekalipun, walau memiliki kandungan asam yang tinggi. Madu membantu ginjal dan usus untuk berfungsi lebih baik.

Madu rendah kalori: Kualitas madu lain adalah, jika dibandingkan dengan jumlah gula yang sama, kandungan kalori madu 40% lebih rendah. Walau memberi energi yang besar, madu tidak menambah berat badan.

Madu berdifusi lebih cepat melalui darah: Jika dicampur dengan air hangat, madu dapat berdifusi ke dalam darah dalam waktu tujuh menit. Molekul gula bebasnya membuat otak berfungsi lebih baik karena otak merupakan pengonsumsi gula terbesar.

Madu membantu pembentukan darah: Madu menyediakan banyak energi yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan darah. Lebih jauh lagi, ia membantu pembersihan darah. Madu berpengaruh positif dalam mengatur dan membantu peredaran darah. Madu juga berfungsi sebagai pelindung terhadap masalah pembuluh kapiler dan arteriosklerosis.

Madu membunuh bakteri: Sifat madu yang membunuh bakteri disebut “efek inhibisi”. Penelitian tentang madu menunjukkan bahwa sifat ini meningkat dua kali lipat bila diencerkan dengan air. Sungguh menarik bahwa lebah yang baru lahir dalam koloni diberi makan madu encer oleh lebah-lebah yang bertanggung jawab merawat mereka-seolah mereka tahu kemampuan madu ini.

Free Link Exchange
Rumah Blogger ALAMATWEB DOTCOM Yahoo bot last visit powered by  Ybotvisit.com Google bot last visit powered by Gbotvisit.com Msn bot last visit powered by  Mbotvisit.com by
 sougolink.com